Salahkah ketika orang berpendapat bahwa wartawan adalah seorang pahlawan? wartawan adalah profesi yang berkenaan dengan pilihan hidup. Pilihan hidup, maksudnya adalah bagaimana seorang wartawan mempunyai keinginan untuk bekerja secara professional. Hal yang paling terlihat adalah ketika wartawan mampu menaati kode etik yang ada pada profesinya disamping mempunyai keahlian dan kebebasan yang ia miliki. Dalam beberapa kasus seorang wartawan harus berani bertaruh nyawa untuk melaksanakan tugasnya. Mungkin yang teraktual adalah peristiwa gunung metrapi yang merenggut nyawa salah satu wartawan Viva news.com ketika sedang bertugas. Memang sebuah pekerjaan yang memiliki resiko besar, tetapi mereka patut dihargai untuk itu. Sangat pantas disebut pahlawan karena ia memberikan informasi kepada orang lain, tidak peduli atas apa yang akan ia alami.
Wartawan harus bersikap obyektif, tidak mengenal apapun atau siapapun yang ia dukung bahkan yang ia perjuangkan. Pada intinya wartawan harus bersikap netral karena ia punya kewajiban yang harus ia jalankan, yaitu menghormati dan menghargai hak masyarakat untuk menerima informasi yang benar. Wartawan berperan besar atas tegaknya kebebasan pers dan terpenuhinya hak-hak masyarakat akan adanya informasi. Sebenarnya ada pula yang membuat citra wartawan sebagai seorang professional tercoreng. Saat ini tidak sedikit wartawan yang menyalahgunakan profesi yang ia miliki dengan menerima suap dari pihak tertentu untuk mengubah fakta. Fenomena seperti ini sudah tidak dapat lagi disembunyikan, tetapi pada kenyataannya kasus ini hanya dilakukan oleh oknum wartawan tertentu, tidak semuanya seperti itu.
Sudah menajadi bagian sentral pada dunia informasi di Indonesia, itulah peran wartawan saat ini. Wartawan membantu masyarakat dalam mengawasi jalannya pemerintahan walaupun pada akhirnya peran ini segera dilumpuhkan pada rezim Soeharto. Saat itu terjadi pembredelan beberapa perusahaan media cetak, pembredelan yang mengakibatkan beberapa kritik terhadap pemerintahan seakan menghilang. Di sini sangat terlihat bahwa wartawan berpihak pada masyarakat, dalam arti memerangi penyimpangan yang dilakukan pemerintah.
Pers mulai aktif di Indonesia pada awal abad ke 20. Kaum penjajah rupanya membawa dampak positif terhadap terciptanya dunia jurnalistik di Indonesia. Sejak awal abad ke 17, di Jakarta (yang dulunya bernama Batavia) sudah mulai muncul keberadaan surat kabar. Memang saat itu bahasa yang dipakai adalah bahasa Belanda mengingat pada waktu itu Belanda sedang berkuasa di Indonesia. Pers terus berkembang di Indonesia, pasalnya pada saat itu pers dianggap sesuatu yang menjanjikan di dunia bisnis. Para pengusaha surat kabar dan para kuli tinta dari belanda mulai melebarkan sayap seiring dengan berdirinya VOC di Indonesia. Disamping itu orang-orang saat itu mulai sadar bahwa pers tidak hanya berguna sebagai bisnis tetapi juga sebagai alat penyampai informasi kepada pembaca dan menambah pengetahuan. Seiring dengan perkembangan zaman, pers mulai memegang peran sentral di Indonesia. Pada saat itu permasalahan politik antara masyarakat dan pemerintah mulai diberitakan.
Hadirnya pers terus membawa dampak positif yang semakin terlihat di Indonesia. Pada akhirnya masyarakat Indonesia menjadi lebih kritis. Masyarakat Indonesia menjadi lebih paham bahwa para penjajah sudah menyengsarakan negerinya. Hal ini memunculkan adanya integrasi di dalam elemen masyarakat untuk menentang para penjajah. Awal lahirnya surat kabar di Indonesia ditandai dengan hadirnya Medan Prijaji yang terbit di Bandung. Surat kabar inilah yang menjadi pelopor dan peletak dasar jurnalistik modern Indonesia, termasuk pelopor hadirnya para wartawan-wartawan di negeri ini. Wartawan-wartawan Indonesia memiliki peran penting saat Indonesia berjuang untuk menuju kemerdekaan. Mereka mengawasi jalannya pemerintahan serta meliput seluruh kejadian dan gerak-gerik penjajah di Indonesia. Berangkat dari sana, masyarakat Indonesia mempunyai sarana untuk menentang para penjajah dan mendukung tujuan awal bangsa ini, merdeka.
Melalui hal tersebut dapat disimpulkan bahwa pers menjadi senjata makan tuan bagi para penjajah. Penjajah membawa pengaruh dengan hadirnya pers di Indonesia, tetapi mereka akhirnya terusir karena pengaruh yang telah mereka bawa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar