Sabtu, 15 Januari 2011

Natal, Kado Spesial untuk Perdamaian

Tanpa salju, hanya berselimut air. Bukan musim dingin melainkan musim hujan. Bulan Desember adalah bulan yang ditunggu-tunggu oleh sebagian besar umat kristiani. Bulan, dimana pohon natal banyak terpasang di tempat-tempat umum. Tepatnya pada tanggal 25 Desember, sebagian besar umat kristiani merayakan natal sebagai simbol lahirnya sang juru selamat. Perayaan besar yang merupakan tradisi kristiani dari tahun ke tahun menjadi satu peristiwa yang selalu dinanti. Pada saat itu seluruh umat kristiani bersuka cita karena sang penyelamat telah lahir, walaupun sudah menjadi rahasia publik bahwa tanggal 25 Desember bukanlah hari kelahiran Yesus kristus yang sebenarnya. Umat kristiani memaknai natal sebagai hari besar yang penuh makna, penuh kasih sayang, dan penuh kegembiraan.
            Natal selalu identik dengan pohon cemara, lampu berwarna warni, dan seorang tokoh berjenggot putih bernama “Santa Claus”. Natal menjadi sesuatu yang wah untuk dirayakan. Seorang Santa Claus mungkin salah satu yang paling populer. Ia adalah sosok yang selalu diingat karena ia hadir di tengah-tengah orang yang merayakan natal untuk membagikan hadiah. Sebenarnya Santa Claus merupakan satu simbol untuk menjelaskan bahwa Tuhan akan memberikan hadiah yang terbaik kepada siapapun. Hal ini mengingatkan kita bahwa sebenarnya natal itu bukan melulu perayaan mutlak untuk umat kristiani. Natal membawa kegembiraan untuk semua umat manusia tidak peduli apapun agama, suku, maupun rasnya. Natal hanyalah sebuah kondisi dimana semua orang berhak menerima rahmat Tuhan dengan penuh suka cita.
            Mungkin sebagian orang berpikir bahwa natal hanya perayaan eksklusif bagi orang Kristen. Pada kenyataannya, diluar konteks “ibadah”, perayaan natal adalah sebuah perayaan di mana seluruh umat manusia khususnya di Indonesia dapat terlibat di dalamnya. Sebagai contoh adalah  perayaan natal di Solo, jawa tengah. Pesta natal dirayakan dengan membagikan bahan pangan kepada masyarakat, tidak melihat agama yang dianut. Disini dapat dilihat sebuah toleransi antar umat beragama. Warga non-kristianipun tidak serta merta menentang apa yang dilakukan dalam perayaan natal tersebut. Mereka dapat membuktikan bahwa sebenarnya perbedaan bukanlah penghalang untuk terciptanya suatu kedamaian.
            Sebenarnya apakah makna sebuah pluralisme bagi kehidupan beragama di Indonesia? Pluralisme adalah satu sikap dimana beberapa kelompok manusia dapat saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Pluralisme yang dimaksud disini adalah pluralisme dalam kehidupan beragama. Indonesia merupakan Negara yang memiliki banyak keberagaman di dalamnya, salah satunya adalah keberagaman agama. Indonesia memiliki lima agama yang telah diakui ,yaitu Islam sebagai agama mayoritas serta Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha. Dalam keberagaman ini masyarakat secara tidak langsung dituntut untuk saling bertoleransi, tujuan utamanya adalah supaya tidak terjadi perpecahan. Toleransi antar umat beragama di Indonesia sangat penting demi terwujudnya semboyan yang dipegang teguh oleh rakyat Indonesia, Bhineka Tunggal Ika (Berbeda-beda tetapi tetap satu). Memang yang dibutuhkan disini bukan persoalan mana yang baik dan mana yang buruk, bukan pula persoalan mana yang benar dan mana yang salah karena kita semua hadir sebagai masyarakat Indonesia yang mau saling belajar dan saling mengerti satu sama lain. Tidak perlu mempermasalahkan itu semua karena kebenaran ajaran agama hanya akan membuat orang berpikir bahwa agamanya yang paling benar, sedangkan yang dibutuhkan saat ini adalah sikap saling menghargai antar umat beragama.
            Beberapa tahun yang lalu Majelis Ulama Indonesia (MUI) sempat mengeluarkan fatwa bahwa haram bagi umat islam jika mengikuti perayaan natal dan terlibat di dalamnya. Mereka mempertahankan prinsip “bagimu agamamu, bagiku agamaku”.  Pada intinya prinsip itu menunjuk terhadap pelarangan umat muslim untuk ikut mengamalkan perayaan agama lain di luar islam. Jika dilihat dari fatwa yang dikeluarkan, seolah-olah semangat pluralisme yang ada di Indonesia pupus. Semboyan Bhineka Tunggal Ika seakan menjadi hal yang tidak diperhatikan lagi.
            Apakah dengan adanya fatwa tersebut umat muslim di Indonesia menutup kemungkinan untuk terbuka terhadap agama lain? Tidak, pada pada kenyataannya banyak umat muslim, khususnya umat muslim liberal yang bersikap “beda” terhadap eksistensi agama lain di Indonesia. Mereka berpendapat bahwa agama mereka adalah agama yang penuh dengan nilai-nilai kemanusiaan. Umat muslim liberal beranggapan bahwa tidak ada salahnya untuk sekedar mengucapkan selamat natal karena Rasulullah-pun tidak melarang umat beragama lain untuk beribadah. Mereka menjunjung tinggi sikap menghargai dan toleransi terhadap pemeluk agama lain. Pluralisme disini bukan berarti harus mengakui Tuhan agama lain sebagai Tuhannya, tetapi bagaimana umat muslim dapat mengakui adanya perbedaan dan menghindari adanya konflik akibat timbulnya primordialisme. 
            Jika dilihat dari pemaparan di atas, tidak ada alasan untuk tertutup terhadap pemeluk agama lain. Pada agama masing-masing sudah diajarkan bagaimana menghargai pemeluk agama lain. Pluralisme seakan sudah tertanam di dasar agama yang dianut. Mungkin sepenggal lirik ini dapat menjadi gambaran terhadap realita toleransi agama yang sedang terjadi :
“Tuhan anugrahi sebuah cinta, kepada manusia untuk dapat saling menyanyangi…. Bila kebencian meracunimu, takkan ada jalan keluar, damai hanya jadi impian…”
Dewa – Cintailah Cinta
Pada intinya semua agama mengajarkan untuk saling menyayangi, tetapi bila manusia tidak dapat mengubah dan membuka sudut pandangnya terhadap orang lain, maka kebencianlah yang akan muncul. Akibatnya akan terjadi konflik dan manusia tidak akan pernah merasakan kedamaian. Hal ini kembali lagi ke masing-masing individu, apakah mereka mampu membuka mata dan hati mereka untuk menerima dan mentolerir hadirnya agama lain.
            Natal memang bukan merupakan satu ajaran yang diberikan langsung oleh Yesus (sebagai Tuhan orang kristiani), tetapi setidaknya natal dapat menjadi satu sarana untuk membawa perdamaian di dunia. Seperti semangat yang selalu diajarkan oleh seorang Santa Claus yang memberikan hadiah kepada setiap orang, perayaan natal juga akan memberikan kado spesial untuk seluruh umat manusia yaitu perdamaian. Tidak bisa dipungkiri bahwa kita hidup dalam keberagaman. Kita tidak berjuang untuk menyatukan perbedaan yang ada, tetapi bagaimana kita mampu bersatu di tengah perbedaan. Dari sini kita memperolen jawaban, mengapa Tuhan menciptakan cinta? karena kita manusia yang berbeda, yang akan saling melengkapi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar