Ditinjau dari bentuknya, ilmu komunikasi terbagi menjadi empat yaitu komunikasi persona, komunikasi kelompok, komunikasi massa, dan komunikasi medio. Di sini saya akan membahas lebih lanjut mengenai komunikasi massa (Mass Communication), khususnya peran media massa terhadap penyelesaian suatu konflik di masyarakat. Media massa bisa dijadikan kontrol sosial, artinya media turut memberikan informasi kepada masyarakat dan masyarakat akan melakukan pengawasan terhadap informasi yang ada. Untuk saat ini, media yang kerap muncul dalam masyarakat adalah surat kabar dan televisi. Siapa yang tidak kenal kompas, Kedaulatan Rakyat, Bernas, Tempo, dan siapa yang tidak kenal Metro TV, TV One, ataupun RCTI. Nama-nama tersebut seakan sudah menjadi nama yang familiar di telinga masyarakat pada umumnya. Media massa berperan besar dalam konflik sosial yang terdapat dalam masyarakat. Misalnya, terdapat konflik antaretnis yang terjadi di daerah Sulawesi. Metro TV akan meliput di tempat terjadinya konflik dan nantinya akan menjadi sebuah informasi yang diterima seluruh masyarakat Indonesia. Melalui hal ini sudah dapat disimpulkan bahwa media massa merupakan sarana komunikasi untuk khalayak. Setelah mendapatkan informasi, masyarakat akan bereaksi terhadap suatu konflik.
Konflik adalah gejala sosial yang sering muncul dalam kehidupan bermasyarakat. Indonesia sering kali diwarnai berbagai konflik, baik konflik yang terjadi antara Indonesia dengan penjajah, ataupun konflik internal yang terjadi diantara sesama bangsa Indonesia. Menurut Soerjono Soekanto, seorang guru besar sosiolog hukum Universitas Indonesia, konflik adalah suatu proses sosial di mana orang perorangan atau kelompok manusia berusaha untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan yang disertai dengan ancaman dan atau kekerasan. Konflik dilatar belakangi oleh perbedaan-perbedaan sosial karena konflik merupakan sebuah proses interaksi sosial manusia untuk mencapai tujuan tertentu. Di sini keberadaan ilmu sosial diharapkan mampu memberikan sumbangan-sumbangan terhadap penyelesaian konflik.
Konflik Tarakan, 28 September 2010
Saya mengambil salah contoh konflik yang ada di Indonesia. 28 September 2010. Bentrokan hebat yang membuat kota Tarakan, Kalimantan timur terlihat begitu mencekam. Kejadian ini berawal dari sebuah pengeroyokan warga Kelurahan Juata Permai oleh sekelompok warga yang berasal dari suku Bugis Latta. Warga Kelurahan Juata Permai berniat membalas tetapi lagi-lagi korban ada di pihak mereka. Melihat kejadian itu warga lain pun ikut merespon dan terjadilah bentrokan yang lebih besar. Warga Juata membakar rumah-rumah milik warga suku Bugis termasuk rumah tokoh masyarakat di sana. Seakan tidak puas, keesokan harinya warga Juata kembali meyerang dengan melibatkan 300 warga ke rumah tokoh suku Bugis. Dalam bentrokan itu, dua orang suku Bugis akhrinya tewas sementara ada empat orang luka-luka.
Seperti yang tercantum dalam ketentuan-ketentuan pokok pers (1982) mengenai fungsi media massa : Pers Nasional adalah alat perjuangan nasional dan merupakan mass-media yang bersifat aktif, dinamis, kreatif, edukatif, informatif dan mempunyai fungsi kemasyarakatan pendorong dan pemupuk daya pikiran kritis dan konstruktif-progresif meliputi segala perwujudan kehidupan masyarakat Indonesia. Dalam kasus ini media massa bersifat aktif dan informatif. Aktif maksudnya, media massa terus mencari informasi yang nantinya menjadi sumber informasi bagi masyarakat di luar Kalimantan timur. Dengan adanya media massa, masyarakat di Indonesia mengetahui permasalah dan konflik yang terjadi di Tarakan. Informatif disini maksudnya, media massa sebagai sarana komunikasi bertujuan untuk memberikan informasi dan penjelasan. Kasus-kasus seperti ini sangat penting untuk diketahui masyarakat dan penyebaran informasi seperti ini akan membuat pemerintah bereaksi. Konflik-konflik internal seperti ini memang harus ditanggapi oleh pemerintah jika melihat dampak yang akan ditimbulkan. Dampak yang timbul adalah dampak negatif dan dampak ini akan langsung dirasakan oleh pihak-pihak yang terlibat konflik. Dampak negatif misalnya, hancurnya harta benda dan jatuhnya korban jiwa.
Hadirnya Pers di Indonesia
Bagaimana media massa hadir di tengah-tengah masyarakat Indonesia? Setelah Soeharto turun dari kursi kepresidenan perkembangan media massa di Indonesia menjadi sangat pesat. Perusahaan media cetak dan stasiun televisi lahir tanpa adanya izin dari pemerintah, tidak seperti pada saat pemerintahan Orde Baru. Semakin banyak media massa yang muncul akan semakin banyak pula pilihan masyarakat untuk menerima sebuah informasi. Walaupun masyarakat dapat dengan mudah mendapatkan informasi, juga perlu diingat bahwa persaingan antar media massa akan berpengaruh terhadap kualitas informasi karena perusahaan-perusahaan media cetak / televisi harus mengutamakan bisnis. Hadirnya berbagai media massa di Indonesia juga menimbulkan efek lain, masyarakat menjadi lebih kritis dalam menghadapi fenomena sosial yang ada.
Sekarang kita lihat apa saja peran media massa dalam penanganan konflik, khususnya terhadap konflik yang terjadi di Tarakan. Setelah terjadi bentrok beberapa stasiun televisi meliput kejadian di sana. Tidak hanya stasiun televisi, beberapa perusahaan media cetak juga berlomba-lomba meliput berita. Satu hal yang perlu diketahui, mungkin kebanyakan orang berpikir bahwa laporan berita bersifat langsung padahal kenyataannya tidak. Semua laporan berita harus dimediasi, artinya laporan berita harus mengkomunikasikan sesuatu melaui ruang dan waktu yang menjangkau sebanyak mungkin orang. Dari sana, masyarakat yang berada di luar daerah konflik (misalnya, masyarakat Pulau Jawa) akan menerima informasi yang diberikan. Adanya isu tersebut juga akan membuat pemerintah bereaksi dan akhirnya bertindak. Terbukti setelah adanya kejadian di Tarakan, pemerintah mengirim 172 anggota personel Brimob dari Kelapa Dua untuk mendukung pasukan polres Tarakan.
Berbagai isu sempat muncul di masyarakat. Salah satunya adalah dugaan bahwa konflik di Tarakan adalah konflik antarsuku. Hal tersebut segera dibantah oleh Mabes Polri Brigjen I Ketut Untung Yoga di Jakarta. Beliau Menjelaskan bahwa konflik Tarakan murni merupakan konflik antar individu bukanlah konflik antarsuku. Konflik Tarakan hanya berawal dari hal sepele, yaitu pemalakan. Karena adanya media massa, masyarakat tahu bahwa konflik ini bukanlah persoalan ras. Bukan tidak mungkin konflik akan meluas ketika masyarakat tidak mengetahui penyebab yang sebenarnya. Sebagai contoh kita lihat tragedi yang terjadi di Poso pada tahun 2000. Konflik tersebut terus meluas, membuat banyak orang terlibat, dan akhirnya banyak pula korban yang jatuh.
Tidak dapat dipungkiri lagi, peran media massa amat besar di Indonesia bahkan di dunia pada umumnya. Selain sebagai sumber informasi, media massa juga memiliki peran sebagai kontrol sosial yang ada di masyarakat. Masyarakat dewasa ini tidak lagi kesulitan untuk menggunakan fungsi media massa. Sudah banyak penjualan koran dengan berbagai perusahaan yang berbeda dan sudah banyak pula stasiun televisi yang hadir di tengah masyarakat. Banyaknya sumber informasi yang didapat akan membuat masyarakat berpikir ulang untuk menerima informasi tersebut. Hal ini dapat ditanggapi secara positif karena masyarakat akan lebih kritis terhadap adanya suatu fenomena sosial. Diluar hal positif dari munculnya media massa di masyarakat, terdapat pula hal negatif. Banyaknya perusahaan yang meliput kejadian akan berimbas pada penurunan kualitas informasi. Perusahaan-perusahaan media massa hanya melihat dari segi bisnis, oleh karena itu berita-berita yang muncul di masyarakat terkesan hanya mencari sensasi dan terlalu dilebih-lebihkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar